Assalamualaikum ayat ...
Kamu inget ga?
Awal bertemu rasanya canggung. Ya, mungkin kau belum menerima ku dengan keadaan yang masih setengah hati.
Aku ingat sekali. Dulu saat minggu-minggu awal perjumpaan kita, kamu masih memalingkan diri seakan tidak ingin aku kenal. Dan aku masih berusaha mati2an membujuk mu untuk mau bersahabat dengan ku.
Waktu demi waktu, sikap mu yg dingin itu pun menjawab semuanya. Bahkan ternata ada sesuatu noda yang terlalu banyak menempel di diriku, sehingga membuatmu enggan untuk bersahabat dengan ku.
Awal nya aku hiraukan noda itu dan terus berusaha mengajak mu untuk berteman. Tapi ternyata, hanya lelah yang kurasa. Dan kau? masih suka bepergi2an dari dekapanku.
Dari situ aku terus cari bagaimana caranya agar kau bisa dengan tulus bersahabat dengan ku.
Dan aku pun mencoba untuk menghilangkan satu persatu noda yang sudah terlalu banyak menempel di tubuhku. Tanpa ku sadari, ternyata semakin ku berusaha untuk menguras noda ini, semakin itu juga sikap mu mulai mereda. Terimakasih atas tanda2 yang sudah kau berikan. Aku pun mulai semangat untuk menghilangkan noda ini, agar kau bisa ku dekap tanpa harus pergi menjauh.
Dan masuklah aku pada fase, dimana hari demi hari rasanya tidak ingin aku lewati sia2, pertemanan ku dan mu sangatlah membuatku tenang dan ingin selalu mendekapmu lebih erat.
Kau tak bisa bicara, tapi kau memberiku beribu makna. Kau tak bisa berubah, namun kau merubah hidupku menjadi lebih indah. Dan kau tak bisa berbuat, namun kau menjaga ku dalam 2 kehidupan sekaligus.
Pertemanan kita selalu di hadiri dengan berbagai macam keajaiban yang sebelum nya belum pernah ku temui.
Hingga tiba pada masanya ...
Kau yang dulu ku kejar mati2an. Sekarang malah kujauhkan. Seakan dulu tak pernah ada perjuangan yang membuat diri ini menangis berkali-kali. Kebaikanmu selama ini, seakan ku buang begitu saja. Bahkan, sampai terkadang aku lupa untuk menyapamu.
Dan kembalilah aku menempeli noda yang dulu telah ku bersihkan.
Saat itu aku senang, aku tenang, dan aku bahagia.
Walau nyatanya dalam hati yang terdalam, tidak sebaiknya apa yang ku tampakkan.
Semakin banyak noda yang menempel. Semakin jenuh ku berteman denganmu. Sampai2 untuk menyentuhmu saja aku enggan. Aku terlalu pede dengan peranku, yanh seakan2 kau yg lebih membutuhkan ku. Ternyata aku keliru. Aku yang tak bisa hidup tanpamu.
Hai ayat ... apakah kamu tau?
Paragraf yg baru saja aku ceritakan. Sebenarnya itu adalah paragraf yang paling menyedihkan. Menyakitkan bahkan Mematikan.
Cahaya yang dulu ku simpan dalam dekapan. Kini redup entah kemana. Kau yang selalu menjaga ku dalam segala kerisauan hati, kini pergi memusuhiku.
Dan kini aku menyesal. Pernah berteman dengan hawa nafsu.
Tentang Persahabatan Dunia dan Akhirat.
x

x

Comments

Popular posts from this blog