Belajar Punya Mimpi 
dari Ustadz Yusuf Mansur

"PPPA akan jadi Demaknya jakarta"
(Ustadz Yusuf Mansur)

       Harian Umum REPUBLIKA edisi Jumat, 26 januari 2007, memuat wawancara Kang Damanhuri, wartawan senior di harian tersebut, dengan Ustadz Yusuf Mansur. Berikut ini kutipan hasil wawancaranya.

    Terobosan besar sedang digerakkan Pesantren Tahfidzul Qur'an Daarul Qur'an Wisatahati pimpinan Ustadz Yusuf Mansur, Melalui program Pembibitan Penghafal Alqur'an (PPPA) yang dananya dihimpun dari sedekah umat islam, pesantren yang bermarkas di Kampung Bulak Santi dari Ketapang Tangerang ini, menyiapkan calon hafidz. Diharapkan, setiap tahunya bisa mengaudisi 70 anak yatim dan kaum dhuafa untuk digodok sebagai penghafal Alquran. "Kampung Bulak Santri dan Ketapang akan kita jadikan seperti Demak dan Kudusnya Jakarta. jadi, orang kampung-kampung juga melakukan setoran hafalan Alquran,"tandas Ustadz Yusuf Mansur kepada Damanhuri Zuhri dari Republika Ahad (21/1).

         Berikut ini hasil wawancara lengkap tentang konsep, program, dan tujuan dari PPPA itu:

         Bisa dijelaskan sejarah awal berddirinya Ponpes Tahfizul Qur'an Daarul Qur'an?

          Awalnya pesantren itu berdiri tidak sengaja. Waktu itu datang tamu kerumah saya, Ustadz H Ahmad, dia sedikit mengadu tentang keadaan Pondok Pesantren yang dirintisnya yang memang butuh suntikan dana di tahun 2003. Akhirnya saya meminta beliau menempatkan santri di rumah saya. Ternyata pesantren yang dia maksud hanya satu rumah yang bercampur anatara santri wanita dan pria. Tapi, beliau memang luar biasa, Lulusan Madinah yang istiqamah. Motivasi saya hanya satu supaya punya hafalan Alquran bisa ada kesempatan  untuk muraja'ah yaitu dengan mengajar karena menjaga hafalan supaya baik yaitu dengan mengajar. Kedua, motivasi saya supaya selamat dan saya butuh sekali pertolongan Allah. Sedangkan Allah bilang, kalau kita rajin membantu orang, rajin sedekah, akan dibantu. Jadi,waktu itu sekitar delapan orang anak kemudian dipondokkan di rumah. Jadilah cikal bakal Ponpes Daarul Quran.


Bagaimana dengan PPPA di pondok itu?

        Awalnya konsep Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) adalah sebuah konsep Seribu Pondok. Maksudnya adalah bukan membangun dari nol tapi kita mencari masjid yang konsepnya tidak ada kegiatan lalu kita titip anak-anak disitu untuk belajar. Kita mencarikan guru yang juga Hafidz, kemudian disewakan satu rumah, dialah nanti yang mengajar. Untuk sekolah Formal mereka beri sepenuhnya untuk memilih. Kemudian kita menemukan lokasi yang cantik sekali namanya Bulak Santri yang terletak dikelurahan Pondok Pucung Kecamatan Karang Tengah, Ciledung, Tanggerang Banten. Dan ternyata Bulak santri ini tambah menarik karena dia sudah ada lokal untuk belajar, madrasah ada 4 lokal yang sudah ada lokalnya yang sudah tidak terpakai selama tiga tahun, Masjidnya besar tapi kegiatanya tidak terlalu banyak. Ada satu majelis yang sudah tidak terpakai belasan tahun. Tahun 2005 kita meminta izin ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk anak-anak bisa belajar tidak ke luar tapi didalam pesantren. Maka lahirlah SMP Islam Daarul Qur'an. Waktu itu kami mengaudisi 20 santri. Tahun pertama delapan santri, tahun kedua 20 santri kemudian tahun 2006 kita mulai jalankan PPPA. Untuk menghidupi santri kami meluncurkan program yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia ini. Setiap tahun PPPA mengaudisi sekitar 70 calon santri.

 Mengapa hanya tujuh puluh?

    Inspirasi karena perang di zaman sahabat diantaranya Perang Uhud banyak penghafal Alquran yang gugur. Ada sekitar 70 Penghafal Alquran yang meninggal dunia. Dan supaya enak juga menyebutnya. Jadi, kita mulai mengaudisi tahun 2006. Alhamdulillah terjaring sekitar 52 orang. Ini diluar dari yang dirumah. Kalau yang dirumah dikembangkan dengan sistem salaf. Sampai 2006 dikembangkan salaf kemudian Allah ternyata lebih mempercepat lagi. Target kami sebenarnya baru tahun 2010 kita mengembangkan konsep internasional boarding school. Ternyata, perkenalan saya dengan keluarga besar sebuah Tv swasta insyaallah dapat mewujudkan pesantren lebih cepat dari waktu yang kami rencanakan sebelumnya. Kemudian Bulak Santri dikembalikan menjadi pesantren percontohan. Di Kampung Ketapang menjadi pesantren pusat dari seluruh Daarul Quran. saya katakan seperti itu karena Daarul Quran di 2006 berevolusi lagi menjadi Daarul Quran Nusantara (DQN) Ketika kami melihat daftar donatur ada yang dari Lumajang, Wonogiri, Semarang bahkan dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, makanya kita berinisiatif mengembalikan PPPA yang didapat dari teman-teman di daerah masing-masing sehingga bergulirlah konsep Daarul Quran Nusantara. Kalau memang orang Jawa Timur mau bersedekah, mereka bisa saja DQN di surabaya. Kalau memang orang Jawa Tengah mau bersedekah, kita buat di Semarang. Orang Kalimantan mau bersedekah, Kita buatkan di Banjarmasin. Daarul Quran yang sifatnya PPPA digratiskan. Kalau yang di Jakarta kita jadikan sekolah subsidi silang. Yang di headquarter kita jadikan sekolah unggulan dengan aneka fasilitas. Tapi kita lepas buat orang kaya sungguhan yang mapu membayar. Uang masuknya antara Rp 10 juta sampai 15 juta sedangkan biaya per bulan sekitar Rp 1,5 juta. Tapi dana yang didapat ini insya Allah digulirkan ke pesantren-pesantren PPPA. Itu diluar donatur dari masyarakat. Dikapung Ketapang sekarang sudah dibangun fondasi insya Allah tahun ajaran baru ini kita sudah mulai beroperasi. Dan itu kita membangun bukan hanya sekolahnya SMP, SMA tapi kita bangun juga SD Alam disamping masjid besar Kampung Ketapang. Kemudian dibangun jugaMadrasah Lilbanat atau sekolah khusus putri.


Bagaimana perolehan dana dari masyarakat?

    PPPA sendiri yang notabene hanya Rp 20 ribu perbulan sudah menggoda masyarakat. Bayangkan sedekah Rp 20 ribu perbulan tapi seluruh amalan santri menjadi amalan dia. Minat masyarakat untuk bersedekah sangat besr. Insya Allah mulai Januari ini ada asistensi dari Baznas Dompet Dhuafa, LAZ Al Azhar Peduli Umat, LAZIS Garuda, supaya PPPA ini lebih maslahat, lebih transparan, dan akuntabilitasnya lebih terjamin.

Dari segi oprasional bagaimana?

    Alhamdulillah kita kosentrasi di tenaga pengajar S-1 dan S-2 dari dalam dan luar negeri. Bahkan untuk yang headquarter kita utamakan S-2 dari Australia dan Kanada. Kemudian dari Timur kita ambil dari Madinah, Makkah, Yaman. Artinya kita mau benar-benar menangani ini secara serius. Bahkan konsultan pendidikan kita dari Jerman. Kampung Ketapang dan Bulak Santri akan dijadikan seperti Demak atau Kudusnya Jakarta. (Damanhuri Zuhri).
  
   Membaca lagi kliping wawancara tersebut, Subhanallah, betapa tujuh tahun yang lalu Ustadz Yusuf Mansur sudah memilikki dream.

   Bukan Dream biasa yang dimaksud Ustadz Yusuf Mansur, melainkan Dream-Pray-Action. Maknanya, mimpi atau cita-cita dikawal dengan doa dan ibadah kepada Allah serta dikerjakan dengan sebaik-baiknya, maka Allah SWT akan memberi jalan agar terwujud.


BELAJAR DARI USTADZ YUSUF MANSUR                                   GORESAN ANWAR SANI

Comments

Popular posts from this blog