JUAL MOBIL
UNTUK BAYAR TUKANG
Saat itu, anatara tahun 2007-2008, kondisi keuangan
PPPA Daarul Qur’an lagi krisis. Tak seimbang antara pemasukan dengan kebutuhan
membangun pesantren. Mau berhenti nanggung,
mau lanjut tidak ada dana, jika proses membangun berhenti, sangat beresiko
karena beberapa bulan ke depan santri baru akan segera masuk.
Dana sedekah yang dipercayakan publik kepada PPPA
Daarul Qur’an memang terus bergerak naik. Akan tetapi, kebutuhan program dan
juga pembangunan pesantren, juga semakin tinggi, Karena pembangunan tidak
bertahap, tapi terus tancap gas.
Ketika itu, secara logikamanusiawi, melihat peluang
dari sudut manapun “nggak ketemu angkanya” untuk membiayainya pembangunan.
Sedangkan tukang terus berkerja, dan bahan bangunan harus terus dibeli meskipun
dengan bertang.
Disaat kami “mentok” seperti itu, Ustadz Yusuf
Mansur tetap motivasi untuk melakukan percepatan dalam mewujudkan sesuatu yang
besar bagi kemashalatan umat. Kami ngak boleh menyerah!
Kami-Saya Anwar Sani, Ustadz Jameel,Mas
Tarmizi,Ustadz Hendy Irawan-tentu juga nggak putus asa dari rahmat Allah. Terus
berharap agar Allah anugerahkan kemudahan dalam pembangunan pesantren yang
membutuhkan energi yang cukup banyak.
Nah, di saat kebutuhan sangat mendesak, sedangkan
kas Daarul Qur’an tidak mencukupi kebetulan pembangunan, maka apa boleh buat,
kami terpaksa melego 4 kendraan operasional berupa Mobil Innova, Panter,
Karimun, dan Avanza. Hasil penjualan untuk membayar tukang dan membeli bahan
bangunan.
Padahal, kendaraan-kendaraan ini merupakan sarana
operasional untuk bertugas; Saat harus bertemu dengan Klien, atau menghadiri
event-event didalam kota maupun diluar kota.
Setelah dikumpulkan di pesantren, kami berdoa kepada
Allah dihadapan jejeran Mobil, Semoga Allah mudahkan Ikhtiar membangun
pesantren Daarul Qur’an dan semoga Allah ganti kendaraan-kendaraan ini dengan
kendaraan yang lebih baik. Kami bacakan juga Surat Al-Fatihah bersama-sama.
Nggak lama kemudian, orang yang akan menjualkan
kendaraan tersebut datang dan membawanya pergi untuk di jadikan uang. Maka,
sejak saat itu operasional manajemen pengurus yayasan kembali mengendarai sepeda
motor.
Motor sih sebenarnya buat kami tidak tabu, biasa
saja, karena memang kendaraan kita-kita Nya motor. Kenapa kok memilih pakai
motor? Karena memang waktu itu belum mampu membeli mobil. He he he.
Tapi, saat itu kami berempat berdoa, kami ikhlas
kendaraan ini dijual untuk membangun pesantren, bahkan harus menjual asset yang
dipakai untuk operasional. Doa dan harapan kami kepada Allah agar proses
pembangunan pesantren bisa terus berjalan.
Akhirnya kendaraan terjual dan uangnya untuk
melanjutkan finishing pesantren.
Alhamdulillah.
Kenangan indah dalam membangun Daarul Qur’an semacam
itu, tidak akan pernah terlupakan dalam kehidupan kami. Mengenangnya akan
membuat kami tersenyum dan bersyukur, ketika kini kawan-kawan yang mengabdi di
Daarul Qur’an menikmati gedung-gedung yang menjulang, asrama yang
berlantai-lantai, Masjid yang megah, kelas yang bagus.
Smoga semangat it uterus tumbuh dalam diri kami dan
seluruh tim Daarul Qur’an, pengabdian untuk pesantren harus mengalahkan
kepentingan pribadi.
Mudahkan semua urusan kami ya Rabb, Amin.
Comments
Post a Comment